Aku
langsung mandi dan terus kekamar ayahku. Saat itu seluruh pakaianku
kutanggalkan dan hanya menggunakan kain sarung milik ayah untuk menutup
tubuhku. Biasanya dikampung ini, melilit tubuh dengan sarung sudah
jadi tradisi tiap wanitanya. "Sekarang berbaring diranjang itu ya
sayang, ayah ambilkan minyak kepala dulu," ayahku memandangi tubuhku
dengan senyuman, lalu meninggalkanku sendirian dikamar, aku pun
menunggunya sambil berbaring diranjang. Tak lama kemudian ayah datang
membawa sebotol kecil minyak kelapa. "Memang susah anak muda sekarang,
nggak perhatian sama istrinya," ayahku bicara sendiri ketika duduk
ditepi ranjang." Iya, untung saya masih punya ayah yang perhatian ya
yah," kataku. Tangan ayah segera menyibak kain yang kukenakan dibagian
atas, sehingga susuku tanpa pembungkus bebas terlihat. Tetapi aku sama
sekali tak risih karena sejak kecil sampai gadis pun aku sering dilihat
mandi telanjang oleh ayah. Jemari ayah yang kasar mulai mengusapi
perutku dengan minyak kelapa, sesekali tangannya memijit bagian
perutku. "Tuh kan? Posisi bayimu agak turun, kamu sering merasa sakit
ya?" ayah bertanya sambil tangannya terus memijiti perutku. "He-eh
yah.., sering capek juga kakinya," jawabku menikmati pijitan ayah. "Ya
sudah, nanti ayah pijitin seluruh badanmu ya, " ayah mengatakan itu,
lalu pijitannya pindah kebetisku, pijatannya bergantian betis dan
perut. Sambil dipijit, aku dan ayah tetap ngobrol, mulai masalah harga
ikan yang sedang turun, sampai masalah masa lalu ayah dengan ibuku.
"Uhh.. sakit yah," aku agak berteriak saat merasakan sakit dibagian
perut saat tangan ayah memijit. Ayah menghentikan pijitannya, tetapi
tangannya tetap berada diatas perutku. "Ini ya yang sakit Mar? Wah..
ini bisa bahaya, kalau dibiarkan nanti anakmu bisa cacat lho kalau
lahir," kata ayah dengan raut wajah serius. "Cacat? Jadi gimana dong
yah, Mar nggak mau punya anak cacat," aku takut sekali waktu itu, takut
menanggung malu jika kelak melahirkan anak yang tak normal. Ayah tak
langsung menjawab pertanyaanku, ia kelihatan sedang berpikir, tapi
kemudian tersenyum. "Bisa kok ayah obatin, tapi ayah harus siapin
obatnya dulu ya," ayah kemudian meninggalkanku sendirian dalam kamar.
Tak lama ayah datang lagi dan membawa baskom plastik berisi air dan
beberapa kembang kenanga.
"Tapi
ayah harus masukan air kembang ini kedalam rahimmu sayang, kamu bisa
tahan sakit sedikit kan?" ayah mengatakan itu dengan sangat meyakinkan.
Semula aku ragu, apalagi ayah bilang kalau dia akan memasukan air
kembang itu dengan cara menyemburkannya divaginaku. Tetapi keraguanku
pupus setelah ayah berkali-kali meyakinkanku. Sampai sekarang pun aku
tak tahu pasti apa kata ayahku itu benar atau hanya sekedar akal
bulusnya saja. Tetapi yang jelas, saat itu aku menurut saja ketika ayah
menyingkap sarung yang kukenakan dibagian bawah dan meminta aku
mengangkangkan kaki dalam posisi terlipat, seperti posisi wanita yang
hendak
bersenggama
dengan lelaki. Ayah sendiri naik keranjang dengan posisi bersimpuh
dihadapan kangkangan kakiku. Terus terang aku malu dan kikuk menyadari
betapa vaginaku terpampang jelas tanpa penghalang didepan mata ayahku.
"Kamu
tenang saja ya sayang, tidak lama kok," katanya, lalu meneguk air
kembang dalam baskom dan menampung dalam mulutnya yeng menggelembung.
Aku
sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, apalagi saat
kepala ayah mulai merunduk melewati dua pahaku, mendekati vaginaku yang
tak terbungkus CD. Beberapa detik kemudian kurasakan dingin mejalar
dipermukaan kemaluanku, rupanya ayah sudah menyemburkan air dalam
mulutnya tepat kevaginaku. Yang kurasakan selain dinginnya air kembang,
juga perasaan geli dibagian vitalku. Ayah mengulangi lagi meneguk air
itu dan menyemburkan ke vaginaku, beberapa kali. Hal itu menimbulkan
perasaan tak menentu padaku, geli, dingin bercampur enak.
"Gimana Mar, sudah agak membaik rasa sakitnya?" ayah bertanya padaku.
Namun belum sempat kujawab tangan kanan ayah tiba-tiba membelai vaginaku.
"Sabar
ya, ayah harus pastikan air kembang itu masuk sampai kerahimmu, "
katanya, sambil tangannya terus mengusapi bibir vaginaku.
Usapan
tangan ayah divaginaku yang sudah basah terkena air kembang membuat
sensasi tersendiri kurasakan, aku pun tak bisa berkata- kata lagi
karena mendadak lemas seluruh sendi tubuhku.
"Uhh
yahh.. sudah yah.., Mar nggak bisa tahan geliinya," bibirku meminta
ayah menghentikan aksi usapnya, tetapi kedua tanganku tak menahan
tangan ayah yang aktif, tetapi tanganku justru meremasi sprei ranjang
kanan dan kiri.
"Disini
ya sayang yang geli itu, " ayah bertanya sambil jempol kanannya
menekan klitorisku dan menguyak-nguyak benda sensitifku itu memutar
kecil.
"Nnnghh..
iya yah.. geli sekali disituhh, " nafasku mulai tersengal menahan geli
yang nikmat dibawah usapan jempol ayah dibagian klitorisku.
Rasa gatal yang sangat kurasakan dipucuk-pucuk kedua susuku yang putingnya sudah mengembang pertanda birahi yang kualami.
Ayah
meneruskan aktifitasnya mengusapi klitorisku dengan jempolnya, usapan
itu perlahan melemah dengan posisi jempol beranjak menjauh dari
klitorisku. Saat itu aku sudah sangat terangsang oleh ayah, pinggulku
kini yang naik mengejar jempol ayah agar tak meninggalkan klitorisku.
Aku menggelepar dengan napas sudah sangat tidak beraturan lagi,
pikiranku sudah melayang dan tak ingat lagi bahwa yang merangsangku
adalah ayahku sendiri. Tapi disaat aku sudah sangat terangsang seperti
itu, ayah justru menghentikan aktifitasnya di klitorisku. Pinggulku yang
tadinya sedikit mengangkat mencari jempol ayah langsung terjerembab
lagi, aku terpejam menahan gejolak yang berkecamuk ditubuhku.
"Auhh
yahh, kenapa?" tanyaku agak kecewa, tapi mendadak malu saat ayah
menatapku, malu karena aku seperti meminta hal yang lebih dari ayahku.
"Mar.. sepertinya air kembang itu tidak masuk benar dalam rahimmu. Ayah ulangi semburannya ya," kata ayahku.
"Yah..
sudah saja ya, Mar.. nggak tahan gelinya, " pintaku, tapi anehnya
tubuhku tetap berbaring seolah tak ingin menjauhi ayah.
Ayah
tak menjawab permintaanku dan kembali meneguk air kembang lalu
ditampung dimulutnya. Aku memejamkan mata saat kepala ayah kembali
tunduk mendekat ke pangkal pahaku. Aku kembali merasakan dingin di
permukaan vaginaku saat ayah mulai menyemburkan air kembang, tapi kali
ini lain, setelah semburan itu aku merasa ada benda kenyal nan lembut
menyapu permukaan
vaginaku.
Kupikir itu jemari tangan ayah, tetapi tidak, itu bukan tangan, benda
bertekstur lembut, hangat, dan kenyal itu adalah lidah ayah. Ya, ayah
mengusapi tepatnya menjilati permukaan vaginaku dengan lidahnya.
"Ihh..
mmpphh yaahh, aauhh hhsstt," aku tak kuasa menahan rasa nikmat
dijilati ayah, terus terang sejak kawin dengan Mas Hamdi belum pernah
aku diperlakukan seperti itu. Mas Hamdi selalu main langsung tembak,
tanpa rangsangan lebih dulu sehingga selama ini aku sendiri belum
pernah merasakan apa yang disebut kenikmatan orgasme. Jilatan ayah
mulai meningkat, kini lidahnya justru sering menelusup belahan bibir
vaginaku yang mulai banjir. Cairan bening kental dari vaginaku
diseruput ayah seperti menyeruput kopi hangat dari gelasnya.
"Ngghhsstt.. yah.. Mar nggak bisa tahnn.. ouhh.." aku mulai menggelinjang tak menentu rasanya.
Namun
disaat aku mulai melambung tinggi, ayah menghentikan lagi aktifitasnya
di vaginaku, membuat aku menggelepar menahan birahiku sendiri.
"Mar.. ayah agak sulit masukan air kembang itu kerahimmu. Tahan sebentar lagi ya," katanya.
"Yah.. cepetan ya, Mar nggak kuat lagi, geli sekali yah, " aku merasa semakin lemas karena birahiku dipermainkan seperti itu.
Saat
itu aku berhayal seandainya Mas Hamdi ada tentu dialah yang akan
memuaskanku dengan penisnya, karena aku merasa sudah siap betul dan
ingin sekali untuk disetubuhi lelaki. Tapi pikiran itu kutepis, karena
bukankah ayah yang sedang mengobati kandunganku? Aku tak berpikir bahwa
ayah pun terangsang saat itu.
Tapi
tak lama kemudian kurasakan nafas ayah kembali mendekati vaginaku,
setelah meneguk air kembang yang hampir habis di baskom. Ayah tidak
lagi menyemburkan air itu dengan berjarak dari vaginaku, tetapi bibir
ayah langsung menempel dibibir vaginaku dan ia menyemburkan air itu.
Kurasakan aliran air itu masuk hingga ke dinding rahimku, rasanya sama
seperti saat Mas Hamdi menumpahkan spermanya ketika kami bersenggama.
Setelah itu bibir ayah melumati bibir vaginaku, lidahnya mulai masuk
dibelahan vaginaku membuat nikmat yang sangat dibagian sensitif itu,
aku benar-benar kepayang dibuat ayah. Kini jemari tangan ayah turut
menyibaki vaginaku, membukanya lebar dan lidahnya menyapu klitorisku
dari atas kebawah dan sebaliknya dari bawah keatas.
"Ouhh..
yah.. suddhh yaahh, Mar mau kencingg rasanya ah.." seluruh sendiku
terasa ngilu dan mengembang bersama kedutan kecil didinding vaginaku,
aku hampir sampai puncak orgasmeku.
"Iya
sayang, sudah selesai kok, " lagi-lagi ayah menghentikan aktifitasnya,
tapi saat kubuka mata ternyata kali ini tubuh ayah sudah berada diatas
tubuhku dengan bertopang pada dua tangannya.
"Yah..
kok ayah begitu? Ouhh yahh.. ahh," belum habis kagetku karena ayah
menindih, aku merasakan ada benda keras yang masuk ke vaginaku.
Ternyata
ayah sudah melepaskan celananya dan penisnya yang tegang dimasukan ke
vaginaku. Aku hendak berontak karena hal itu tabu dikampungku dan
dimanapun, bukankah seorang ayah tak boleh melakukan itu pada anak
perempuannya. Perang bathin kualami saat itu, aku ingin mendorong tubuh
kekar ayahku tetapi aku sudah sangat lemas saat itu. Sementara
dorongan birahiku ingin segera terpuaskan dengan senggama bersama
lelaki.
"Oohhgg,
Mar.. angap saja ayah Hamdi Mar.. ouhh ayahh nggak tahhann," ayah
tetap menindihku dan kini pinggulnya mulai naik turun diatas tubuhku
membuat penisnya bebas keluar masuk diliang nikmatku yang sudah licin
dan becek oleh cairanku sendiri.
"Nghhg.. aahsstt, yahh.." aku tak kuasa lagi menolak penis ayah yang mulai mengobati rasa gatal di vaginaku.
Dengan
mata terpejam aku malah ikut menyambut goyangan ayah dengan goyangan
pinggulku. Merasa aku tak melawan, ayah pun semakin liar menyetubuhiku,
anak kandungnya. Kini sambil menggenjotku, bibir ayah menjelar
menghisapi puting susuku, sehingga senggama kami sempurna dan
kenikmatan yang kurasakan pun semakin tak tertara bila dibanding
senggamaku bersama suami"Yahh.. Marr mauu kencinghh yahh uuh..sstt,"
Sepuluh
menit berlalu dalam senggama, kurasakan kenikmatan mulai mengumpul di
pangkal pahaku, bongkahan pantatku, ujung- ujung jari kakiku, dan juga
di liang nikmatku. Kedutan semakin terasa didinding vaginaku, dan
akhirnya kurasakan kejang dibagian pinggul sampai kakiku, kakiku
kemudian kugunakan untuk menjepit pinggul ayah dan menekannya agar lebih
dalam penisnya bersarang di vaginaku. Tanganku memeluk tubuh
berkeringat ayah, sementara kepalaku terangkat dengan bibir menyedok
kulit dada ayah. Dalam kondisiku yang puncak itu, ayah masih menggejot
penisnya beberapa kali sebelum akhirnya
ayaHPun mengejang dan mengerang diatas tubuhku.
"Ahhgg
Mar.. ngghh," ayah lalu lunglai dan berbaring disampingku yang juga
lemas tak bertenaga. Tulangku seakan dicopoti saat itu, namun kuakui
itulah kali pertama aku kepuncak nikmatnya senggama Kejadian pertama
bersama ayah, membuat aku agak malu untuk datang kerumah ayah lagi.
Sudah dua minggu ini aku tidak menjenguk atau mengantarkan makanan
untuk ayah. Entahlah, walau sebenarnya aku tak keberatan disetubuhi
nikmat oleh ayah, tetapi aku malu kalau disangka ayah ingin mengulangi
kenikmatan itu lagi. "Gimana sayang, sudah nggak sakit lagi perutmu?"
suara ayah menyapaku, dan aku agak terkejut ketika ayah tiba-tiba sudah
mendekap tubuhku dari belakang sambil tangannya mengusapi perutku yang
nampak sedikit membuncit dengan usia kehamilan 3 bulan.
"Eh
ayah.. Mar sampai kaget. Kadang-kadang masih tuh yah, tapi agak
membaik kok setelah dipijit ayah waktu itu," aku bingung harus menjawab
apa saat itu.
"Gimana
kalau ayah pijit lagi? biar nggak sakit- sakitan perutmu itu, " nafas
ayah tepat menghembusi tengkukku, membuat aku menahan geli dan
merinding.
Sebelum
aku menjawab, tangan ayah kurasakan membelai bongkahan pantatku dan
mulai menyingkap naik bagian bawah daster yang kupakai pagi itu.
"Enghh
ayah.. jangan lagi ah," aku berusaha menepis tangan ayah dan kembali
meneruskan kegiatanku merapikan piring di meja dapur ayah. Tapi tangan
ayah seperti tak mau pergi, dari belakang itu ayah malah memasukan
tangannya kebalik dasterku dan mengusapi bongkahan pantatku, sesekali
meremasinya.
"Ya
sudah, kalau nggak mau dipijitin dikamar, ayah pijitin disini saja ya.
Kamu kan bisa sambil rapikan piring itu, " ayah semakin berani
menyusupkan tangannya kebalik CD ku, sehingga kini tangan kasarnya
mengusapi pantatku tanpa penghalang. Saat tangan ayah langusng
menyentuh kulit pantatku secara langsung, aku merasakan desiran aneh
yang kemudian memacu libidoku.
Kucoba
menahan desiran itu dan tetap merapikan makanan diatas meja dapur,
tetapi aku tak lagi menepis aktifitas ayah, aku membiarkan ayah berbuat
semaunya.
"Asshtt yah.. janganhh geli yah, " aku menggelinjang saat bibir ayah mengecup tengkukku, tapi aku tak mampu menghindarinya.
"Kamu
merunduk diatas meja ya sayang, tenang saja.. supaya perutmu cepat
sembuh, ayah pijitin sambil berdiri ya, " ayah menekan bahuku dari
belakang sehingga posisi tubuhku merunduk dengan kedua tangan menopang
dibibir meja.
Penasaran
juga apa yang akan ayah lakukan, aku pun tak bisa menjawab selain
mengikuti perintah ayah itu. Kini pekerjaan merapikan piring sudah
tidak ada lagi, yang ada aku merunduk pasrah di meja itu, menunggu apa
yang akan ayah lakukan selanjutnya.
Desiran
yang kurasa semakin menjadi saat ayah melorotkan CD yang kupakai lalu
menyingkap naik bagian bawah dasterku. Posisiku jadi nungging
membelakangi ayah dengan tubuh bagian bawah bugil. Ayah lalu memandu
kedua kakiku untuk lebih merenggang jarak, lalu ia pun berlutut
dibagian itu.
"Bagus sekali kemaluanmu ini Mar.." ayah memujiku.
"Ayah, saya mau diapakan lagi sih?"
Aku
penasaran apa yang akan diperbuat ayah terhadapku. Tapi lagi-lagi ayah
bilang kalau itu termasuk pengobatan tradisional yang akan mempermudah
aku melahirkan kelak. Sambil menjelaskan itu padaku, tangan ayah mulai
menjelajahi belahan pantatku
dan kadang menyusup sampai kebibir kemaluanku.
"Hsstt ahh, " aku tak bisa menahan desah yang keluar akibat napasku mulai tersengal menahan dampak aksi ayah.
Perasaan
geli menjalari vitalku dan membuat tenaga dikedua kakiku seperti
melemah, posisiku jadi lebih merunduk dengan tangan terlipat dimeja dan
susuku terhimpit antara badan dan meja. Aku melangkah mundur sedikit
menjaga agar perutku tak tertindis tubuh dan terhimpit meja. Posisi itu
rupanya membuat ayah semakin mudah menggapai vaginaku dari belakang
karena tinggi meja yang hanya satu meter membuat aku nungging maksimal
membelakangi ayah yang berlutut.
"Tahan sebentar ya sayang.. cuma sebentar kok, "
Ayah
tak lagi mengusapi bongkahan pantatku, kini kedua tangannya menahan
bongkahan pantatku dan menguaknya agar bibir vaginaku terlihat.
Ditengah penasaranku, tiba-tiba kurasakan lidah ayah sudah menyapu
bibir vaginaku. Ritme jilatan ayah di vaginaku sungguh teratur, setiap
lima kali menjilat naik turun ayah selalu menghentikannya dibagian
klitoris untuk menekan klitorisku dengan lidahnya itu.
Kendali
benar-benar dipegang oleh ayah saat itu. Aku sudah tidak mampu lagi
bergerak, apalagi menolak perlakuan ayah padaku. Cairan kental kurasa
sudah mulai keluar dari vitalku membuat ayah semakin leluasa menjilat,
mengecup, dan mengulum bibir vaginaku. Dendam nikmat yang tak kuraih
dari Mas Hamdi semalam, ingin kutumpahkan disini, bersama ayahku.
"Aduhh
yahh.. gelhihh sekalhii ehhsshh," saat ritme jilatan ayah menekan
klitorisku, pantatku menyambut bergerak kebelakanng membuat wajah ayah
tenggelam dibongkahannya, aku ingin agar lidah itu menekan lebih keras
klitorisku. Tanganku menggapai apa saja yang ada diatas meja, meremasi
gelas dan serbet disana demi menikmati sensasi itu. Koyakan-koyakan
lidah ayah menembusi belahan bibir vaginaku, sesekali ayah menyedot dan
menelan cairan kental yang keluar, lalu mengoyak lagi dan lagi.
"Ehm..
kemaluanmu sudah mulai berkedut Mar, apa sakit diperutmu sudah mulai
hilang?" ayah menghentikan jilatannya dan bangkit mendekap tubuhku yang
tetap nungging.
"Mhh
aahh, belum yahh.. masih sakit perut Mar," aku menjawab begitu agar
ayah meneruskan lagi jilatannya dan membuai lagi birahiku.
"Belum?
Kalau begitu ayah teruskan ya pijitannya, kalau begini enak tidak
sayang?" ayah berdiri dibelakangku, kedua tangannya mencengkeram
pinggulku. Belum lagi aku menjawab pertanyaan ayah, kurasakan benda
hangat dan tegang ingin menembus vaginaku.
"Ohh
yaahh.., " penis ayah yang sudah berada digerbang liang nikmatku
langsung amblas separuh di vaginaku saat aku mundurkan pantatku.
Tapi
ayah seperti ingin menyiksa birahiku, ia tetap berdiri mematung
sekalipun penisnya sudah masuk separuh ke liang nikmatku. Kini akulah
yang aktif memburu batang perkasa ayah, pinggulku memutar dan
mundur-mundur menahan gatal yang ingin agar penis itu masuk utuh
divaginaku. Beberapa menit seperti itu, ayah pun tak bisa lagi menahan
birahinya, dan siap
menggenjotku.
Tetapi baru saja ayah terasa akan menekan pinggulnya kedepan, mendadak
terdengar ketukan pintu rumah. Ayah beranjak menjauhiku dan menaikan
celananya lagi.
"Ada orang Mar.. kamu perbaiki bajumu ya, ayah lihat siapa yang datang," ayah meninggalkanku didapur.
Agak
kesal memang saat itu karena aku sudah terlanjur birahi dan ingin
sekali terpuaskan. Tapi kesal itu luntur saat terdengar suara Henny,
adik bungsu Mas Hamdi.
"Mbak Mar ada Pak Sam.., saya disuruh panggil, Mas Hamdi sudah pulang, " begitu suara Henny terdengar.
"Oh.. ada nak, Mbak Mar ada disini baru ngatur makanan untuk saya. Mar, Mar.." ayah memanggilku.
"Eh
Henny, Mas Hamdi pulang ya.., yuk kita pulang. Yah Mar pulang dulu
ya," aku berpamitan dan mengajak Henny pulang kerumah mertuaku, hari
sudah beranjak siang saat itu.
Sampai dirumah Mas Hamdi memintaku membuatkan kopi untuknya, lalu dia banyak bercerita tentang hasil melautnya semalam.
"Cakalang
sedang banyak Mar, mungkin setelah makan siang nanti saya bersama
kawan- kawan kembali ke laut, mumpung rejeki nih," katanya.
"Iya Mas, tapi hati-hati ya," jawabku.
Setelah
minum kopi, Mas Hamdi menarikku kekamar, dan minta aku melayani nafsu
seksnya. Untung baru beberapa saat aku dirangsang ayah sehingga aku
sangat senang melayani Mas Hamdi. Tapi seperti biasa, Mas Hamdi main
tubruk saja. Menindih tubuhku masih lengkap dengan baju, Mas Hamdi
hanya membuka resleting celananya. Dasterku hanya disingkap keatas dan
CD dipelorot kebawah lalu ia menggenjotku.
"Ohh
mass, enaakhh mass," walaupun Mas Hamdi tak merangsangku namun dengan
membayangkan buaian ayah tadi, aku bisa terangsang dan benar- benar
ingin dipuaskan. penis Mas Hamdi menembusi vaginaku dengan cepat.
"Iyahh sayangghh enaakhh sekalii.. pepekmu ougghh," Mas Hamdi melenguh, padahal baru beberapa menit penisnya masuk di pepekku.
"Ouhh..
Sstthh.. janghaann duluu mass, ahh," ingin kuhentikan saat merasakan
penis Mas Hamdi berkedut menyemburkan sperma kerahimku. Oh, lagi-lagi
dia hanya memikirkan kepuasan sendiri, tanpa mengerti perasaanku yang
juga ingin merasakan nikmatnya disetubuhi suami.
"Uhh, nikmat sekali sayang, makasih ya," katanya, mengecupku, lalu pergi.
Aku ingin sekali marah, berteriak, dan maki-maki, tetapi semua hanya bisa tumpah lewat tangisan siang itu.
Sore
hari setelah Mas Hamdi melaut, aku berpamitan kepada mertuaku untuk
menjenguk ayah. Lagi-lagi alasanku ayah sedang sakit. Begitulah, sore
itu aku kembali berada dirumah ayah, dan tak ingin membuang waktu aku
langsung memluk tubuh ayah begitu masuk rumahnya.
"Oh.. ayahh, Mas Hamdi jahat yah..," aku menangis dipelukan ayah diruang tamu.
"Kamu kenapa Mar..? kenapa kamu..?" ayah nampak khawatir melihat aku menangis.
"Dia
menyetubuhiku tapi perutku tambah sakit yah, ini yah disini sakit,"
aku menuntun tangan ayah keperutku yang mulai membuncit.
"Disini
ya, sayang. Sudah, kamu diam ya nanti ayah obati.., nah disinikan yang
sakit? disini juga ya..?" ayah seperti mengerti apa yang kuinginkan
dalam posisi berpelukan sambil berdiri, tangan ayah mulai merayapi dari
perut sampai selakanganku, membuat gairahku bangkit seketika.
"Ayo sayang, ayah obatin dikamar.., ups.."
Ayah
membopong tubuhku dan membaringkanku diranjang kamarnya. Setelah itu,
bagai serigala lapar, ayah melucuti pakaianku dan pakaiannya juga. Ayah
langsung menerkam selangkanganku yang membasah dan menjilati lagi
vaginaku.
"Ohh iyaahh yaah.. begitu yahh.. aahh," aku tak lagi bisa mengendalikan ocehanku, nikmat sekali perlakuan ayah itu.
Mendengar
celotehku tangan ayah naik merambati susuku, meremas, dan mencubiti
putingnya. Sepuluh menit mempermainkan vagina dan susuku, ayah rupanya
tak tahan juga. Apalagi pagi tadi pasti ayah pun sangat menyesal
nafsunya tak tuntas.
"Uh Mar.., angkat kakimu ya.. begini sayang," ayah membimbing kakiku menopang dipundaknya.
Dengan posisi itu ayah menepatkan penisnya dibelahan bibir vaginaku.
"Yahh.., obatin Marr yah.. cepet yahh," aku sudah merasa gatal sekali ingin segera menerima sodokan penis kekar ayahku.
"Mar.., kalau lagi hamil muda memang wanita butuh beginian, kalau suamimu susah, kamu sering kemari ya, biar ayah obatin.
Lagipula,
wanita hamil paling enak memeknya.. kayak kamu ini," ayah sengaja lagi
mempermainkan birahiku, aku diajaknya ngobrol sementara kepala
penisnya yang bulat dibiarkan membenam di pintu vaginaku tanpa
memasukan batangnya.
"Gimana Mar? Kamu jawab donk sayang..?" tanyanya.
"Duhh
ayahh.. masukinn dong yahh, Mar nggak bisa nahan lagihh, ahh.. iyaa
uhh," belum selesai aku memohon, ayah menekan pinggulnya, membuat
penisnya masuk keliang nikmatku.
Bless.. cleepp..
Posisi
yang dibimbing ayah ternyata membuat syaraf divaginaku menerima
rangsangan yang maksimal. Dengan posisi itu penis ayah menekan cukup
diklitorisku setiap kali keluar masuk menembus bibirnya. Penis ayah yang
sedikit lebih gemuk dari penis suamiku serasa membuat bibir vaginaku
ikut monyong-monyong menerima sodokannya. Tangan ayah meremasi susuku
dengan keras, dan tanganku hanya bisa melampiaskan nikmatku dengan
meremasi bantal dikepalaku.
Kunikmati
setiap gerakan ayah, aku juga berusaha menggoyang ayah dari bawah
memutarkan pinggulku semampuku, aku pun ingin ayah merasakan kenikmatan
yang sama seperti yang kudapat darinya. Mungkin benar kata ayah, saat
hamil muda wanita sangat butuh seks dan butuh terpuaskan. Rambutku yang
panjang sudah acak- acakan mengikuti gerak kepalaku yang liar.
Keringat ayah dan keringatku bercampur membasahi tubuh kami dan juga
sprei ranjang.
"Ohh Marr.. bukan mainn Mar.. enakh sekali pepekmu nak..," ayah sudah hampir jebol, gerakan menggenjotku semakin cepat.
"Oyaahh..mmphh
aahhsstt.. enaakk juggaa konntollnyaahh.. aahhsstt," saat gerakan ayah
lebih cepat, rangsangan diklitorisku menjadi puncak.
Aku
juga hampir jebol, meski berusaha kutahan tapi kedutan kecil dinding
vaginaku semakin menjadi, sampai akhirnya kupiting leher ayah dengan
betisku yang menggatung.
"Amphuunn yahh.. aahhsstt,.. enghh.. ahhsstt..enghmm.. yahh.. ohh," aku jebol, vaginaku berkedut menjepiti penis ayah.
"Maarr..
ennaakk ohh.. ouhh.. ohh, ennaakkh Marr ohh," beberapa detik kemudian
ayah menyusul orgasmeku, tubuhnya mengejang dan tangannya semakin keras
meremas susuku.
Ayah
menurunkan kedua kakiku dari pundaknya tanpa melepaskan penisnya yang
terjepit vaginaku, dan mengarahkanku untuk berbaring miring berhadapan
dengannya yang terkulai disampingku, kelamin kami tetap menyatu saat
itu. Sampai akhirnya penis ayah mengecil dan melepaskan diri dari
jepitan vaginaku. Saat lelah kami terobati dengan tidur beberapa jam,
malam itu aku pulang kerumah mertua, dan melanjutkan tidur nyenyak
dengan perasaan nyaman sekali.
Seperti
kejadian pertama, meskipun aku terpuaskan bukan main tapi kejadian
kedua bersama ayah menyisakan sesal dibathinku. Apalagi setiap kali aku
mendengar ceramah rohani, aku merasa dosa terhadap Mas Hamdi suamiku.
Selain itu aku juga merasa dosa melakukan hubungan intim dengan ayah
kandungku, bukankah kami sedarah dan tabu untuk melakukan itu?
Tapi
entahlah, dibalik rasa sesal itu, ada rasa ingin mengulangi yang juga
sama besarnya. Dua perasaan itu berkecamuk dibathinku seminggu ini,
selama itu aku ingin sekali ke rumah ayah tetapi batal karena rasa
sesal tadi. Pagi itu aku merasa perang bathin lagi, tapi nampaknya rasa
sesalku kalah kali ini dengan rasa ingin mengulangi nikmat bersama
ayahku. Apalagi semalam aku kembali kecewa dibuat Mas Hamdi. Walaupun
semalam Mas Hamdi sampai tiga kali menindih tubuhku dengan nafsu,
tetapi ia selalu selesai sebelum aku puncak.
Setelah
menyelesaikan pekerjaan rumahku, aku mengemasi makanan untuk kubawa
kerumah ayah yang sudah seminggu ini tak kukunjungi. Kupikir aku bisa
menghabiskan waktu disana karena Mas Hamdi baru subuh tadi berangkat
dan tentu pulang malam. Maklum arah angin berubah sehingga hari itu Mas
Hamdi melaut pagi.
Waktu
aku sampai dirumah ayahku, rupanya pintu tak terkunci sehingga aku
bisa langsung masuk. Kulihat ayah tertidur di kursi bambu ruang tamu,
hanya pakai sarung dan telanjang dada. Kubiarkan ayah tidur sementara
aku kedapur memindahkan lauk dari rantang ke piring yang ada dimeja
dapur. Setelah itu aku kembali keruang tamu dan memperhatikan ayahku
yang tertidur dikursi panjang dari bambu. Dibanding Mas Hamdi, ayah
memang bertubuh lebih bagus walau sudah cukup tua. Dada bidangnya masih
menonjolkan otot semasa muda dulu membuat tubuh yang tingginya
mencapai 178 cm masih terlihat kokoh jika berdiri.
Mataku
menjelajahi tubuh ayah yang terlentang, dari kaki sampai wajah. Wajah
ayah juga masih menawan untuk lelaki seusianya, mirip-mirip aktor gaek
Pit Pagauw yang mancung dan ganteng itu. Kuyakin, sebenarnya banyak
wanita yang tergila-gila pada ayah, hanya saja ayah benar-benar sudah
trauma dengan kegagalan perkawinannya dengan ibuku. Huh.. seandainya
aku lahir di zaman ayah dan bukan anak ayah, ingin rasanya aku kukawini
ayah dan menjadi istrinya. Tentusaja kenikmatan dapat kuraih setiap
saat darinya, tapi mungkin bukan itu ukuran kebahagiaan tiap wanita,
buktinya ibuku memilih meninggalkan ayah dan kawin lagi dengan pria
yang lebih kaya.
"Ngghh.."
ayah menggeliat tetapi tetap tidur, kaki kanannya yang terangkat
membuat sarung yang dikenakan singkap hingga pangkal paha ayah terlihat
jelas.
Oh..
Kekarnya penis ayah langsung membayang dibenakku, apalagi saat itu
ujung penis tidurnya terlihat. Ayah tak menggunakan CD rupanya,
sehingga penisnya menggelayut keluar dari kain sarung ketika kaki
kanannya terangkat dan sarung itu tersingkap. Penis ayah yang tidur
saja sudah hampir sama besar dengan milik suamiku, dadaku langsung
berdesir saat itu, birahiku merambat naik.
Entah
setan apa yang menguasaiku saat itu, aku mendekat dan bersimpuh
dilantai menghadap kursi tempat ayah tidur. Posisi wajahku berada
beberapa centimeter dari penis ayah yang keluar dari sarung. Dengan
sangat lembut kusentuh penis ayah yang masih tidur, dan pelan-pelan
kugenggam penis itu dan kuusap-usap mengocok-kocok penis ayah. Walau
ayah hanya bergumam kecil dan tetap tidur, tetapi reaksi penisnya
positif, batang nikmat itu perlahan membesar dan menegang seirama
dengan kocokanku. Aku benar-benar blingsatan sendiri menyadari penis
ayah sudah on dan siap aksi, entahlah hari itu sebelum mendapat
foreplay dari ayah, aku justru sudah terbakar birahi.
"Ouhh.. Sayangg.." ayah mendadak terbangun, tangannya meremasi rambutku dan menuntun kepalaku mendekat ke penisnya.
"Tolong
hisap sayang, seperti ayah menjilati vaginamu itu," ayah memerintahku,
dan perintah itu kulaksanakan tanpa keberatan, walau sebenarnya baru
kali itu aku menghisap penis lelaki.
"Mmmphh ssthh mmpphh.. Ahh, enak yah?, mmphh sshtt," kulakukan pekerjaanku dengan baik.
Tubuh
ayah sampai menggelinjang beberapa kali menahan kenikmatan oralku.
Saat mulutku mengulum penisnya, ayah menggerakkan tangan yang memegang
rambutku maju-mundur ke arah penisnya, membuat mulutku secara otomasi
maju mundur pula menelan dan melumat penis ayah. Cairan bening yang
keluar dari penis ayah kutelan dengan penuh nafsu. Sambil mengulum
penis, kuperhatikan sensasi wajah ayah yang semakin tampan meringis
menahan buaianku itu. Ayah mencengkeram rambutku lebih kuat dan lebih
cepat menggerakan tangannya memaju mundurkan kepalaku.
"Hsstt
ohh.. Nikmaattnyaa saayyhh.. Oghh.. Aahhgg.. Ayhh puass Marr.. Ohh,"
tubuh ayah kejang dan penisnya menyemburkan sperma kental yang cukup
banyak, kutarik wajahku menjauh sehingga puncratan sperma ayah tercecer
ke lantai.
"Ohh.. Sayang sini sayang, duduk diatas sini ya, "
Setelah
beberapa menit menarik nafas, ayah menyuruhku duduk di kursi bambu itu
sementara ia beralih berlutut dilantai dengan posisi menghadap
perutku. Ayah mengakat kedua kakiku dan menopangnya kemeja di depan
kursi, tubuh ayah seolah kujepit diantara kedua pahaku. Kini gantian
ayah yang mengoralku. CD yang kupakai tidak dilepaskan ayah, tanganya
mengamit CD bagian bawah dan dibawanya kekanan sehingga bibir vaginaku
tersembul lewat celah CD itu, lalu ayah merunduk dan kurasakan sapuan
nikmat di permukaan vaginaku.
"Ohh
yaahh.. hhsstt," gantian juga, kini aku yang meremasi rambut ayah dan
menekan kepala ayah agar lebih terbenam menjilati vaginaku yang
membasah. Perlakuan ayah sungguh lelaki, jilatannya membuat aku
menggelinjang kenikmatan semakin memuncakkan nafsu birahiku.
"Enghh
uhh.. Enak sekali yahh, disitu yahh, oh ya disitu.. Isap yang kuat
yah, " desahanku semakin menjadi, sesak dadaku menahan rasa ngilu
nikmat disekitar vagina dan merambat hiingga boongkahan pantat dan
jari-jari kakiku. Aku berusaha bertahan cukup lama, tetapi setelah lima
belas menit diperlakukan begitu akhirnya pertahanku jebol.
"Duhh
yahh.. Ohh Marr yahh.. Uhh, hsstt.. Enghh enakk.. Ahhsst," saat
vaginaku mulai berkedut, kutekan kepala ayah agar lebih membenam di
vaginaku, cairan yang keluar dari liang nikmatku disedot ayah, membuat
sensasi nikmatnya orgasme bagiku. Saat kedutan itu selesai, aku langsung
terkulai dikursi bambu itu, dan ayah bangkit duduk disampingku
membelai kepalaku.
"Enak Mar?, " ayah membelai pipiku dan menatapku.
"Enghh
ayah, iya enak sekali yahh.." aku lalu menyandarkan kepala didada
ayah. Kami duduk dengan posisi begitu hampir setengah jam, aku dan ayah
terlibat obrolan tentang kenangan indah ayah bersama ibuku, dan juga
tentang aku dan suamiku. Kepada ayah kuceritakan betapa irinya aku
terhadap hubungan ibu dengan ayah yang jauh lebih indah dibanding
dengan aku dan Mas Hamdi, tak terasa aku pun menangis dipelukan ayah.
"Kasihan
kamu nak, pasti kamu menderita tak terpenuhi nafkah bathinmu selama
ini, " ayah membelaiku lagi penuh kasih. Setelah membelaiku, ayah
memegang tanganku dan menuntunnya ke arah penisnya. Astaga, penis ayah
sudah tegak kembali dengan perkasa.
"Mari
Mar.. ayah tuntaskan kenikmatan tadi untukmu," ayah membimbingku lagi
untuk berdiri menghadap kursi dan menopang tangan pada sandaran kursi
bambu itu.
Aku
menurut tuntutan ayah, saat itu aku pun ingin segera menerima penis
ayah, aku ingin disetubuhi ayah dari belakang, doggy style. CD ku yang
basah dipelorotkan sampai lutut dan dasterku disingkap sehingga
bongkahan pantatku terlihat jelas. Ayah memelukku dari belakang,
tangannya mengusapi perut buncitku dan meremasi susuku. Ayah juga
mengecupi leher belakangku.
"Ouhh yaahh.. Marr nggak tahann yah.." aku mulai tak sabar disenggamai ayah, merasakan penis besarnya merangsek vaginaku.
"Iyahh
sayangg.. Nihh ayahh berii.. Ouhh nikmatnyya pepekk inii," ayah
menepatkan penisnya dibibir vaginaku dan menekan pinggulnya kedepan,
gerakan itu membuat penisnya langsung amblas diliang nikmatku yang sudah
banjir saat itu.
"Iya yahh begiituu yahh.. Enakk sekalliihh ohh, " aku merintih menahan nikmat dibagian vitalku.
Ayah
mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga penis kekarnya
menerobos keluar masuk di vaginaku. Senggama doggy style memang nikmat,
apalagi baru kali itu aku mengalaminya, setelah beberapa siang lalu
gagal lantaran hampir kepergok Henny, adik iparku. Ayah benar-benar
memacu birahiku, vaginaku mulai berkedut menginjak menit ke dua puluh
kami bersenggama.
"Ahhsstt..
Hhngghh.. Duhh yaahh.. Enhaakkhh ouuhh, iyaa lebih kerass yaahh..
Enaakkhh hngghh, " aku kelabakan menerima sodokan ayah, kedutan kecil
divaginaku kutahan sebisa mungkin, aku belum mau secepat itu orgasme,
aku ingin lebih lama merasakan kenikmatan itu. Kugoyangkan pinggulku
berputar mengimbangi gerakan ayah, otot perut kutegangkan sesekali agar
ayah merasakan jepitan vaginaku dipenisnya.
"Ohh
Marr.. Enakknyaa pepeekkmuu.. Ohh," ayah pun mulai merasakan hal yang
sama, celotehnya semakin menjadi sambil tangannya meremasi bongkahan
pantatku. Ayah menggenjotku lebih keras, penisnya menumbuki vaginaku
sampai menimbulkan keciplakan berpadunya kelamin kami.
Aku
tak tahan lagi, otot-otot kakiku mengejang seiring denyutan vagina
yang semakin sering muncul. Nafasku dan nafas ayah berpacu melenguh,
mendesis, memndesah, dan berteriak kecil.
"Iya
yahh.. Kuatin yahh.. Marr sampaii yahh.. Ouhh.. Aahhsstt ighh..
Ammphuunn aahh," kurasakan seluruh ototku mengejang, kenikmatan
mengumpul dari kaki, pantat hingga vaginaku yang semakin keras
berkedut, aku hampir orgasme.
"OuuhHPp
Marr.. Iinnii diaa.. Ohh.. Ohh ayah hampir juga Mar.. Ohh," ayah pun
mengerang, tangannya menjambaki rambutku dan tubuhnya semakin cepat
menggenjot tubuhku.
"Ouhh.. Ammphunn yahh.. Amphunn.. Aahhsstt.. Ohh.. Ampphunn.." aku sampai berteriak menerima orgasmeku, aku jebol.
"Iya Marr.. Inii.. Ayahh juggaa.. Aahh," ayah masih menggenjotku berkali-kali saat aku sudah puncak.
Tetapi,
" braak.." pintu rumah ayah yang lupa kami kunci terbuka lebar.
Menyusul suara pintu itu, Mas Hamdi masuk dan berdiri terpaku memandang
ke arah kami.
"Ouhh
Maarr.. aaghhkk.. Ohh.. Iyaahh.. Ohhggh," sangat tanggung saat itu,
meskipun kami tahu kehadiran Mas Hamdi tetapi puncak nikmat yang datang
tak mungkin lagi terhindar, ayah meneruskan memompaku sampai ia
sendiri kejang dan memeluk tubuhku dari belakang.
"Ohh ammphunn yaahh.." aku sangat kenikmatan saat itu.
Mas
Hamdi terpaku memandang kami, tetapi setelah mendengar aku berkata
ampun, Mas Hamdi segera menuju ke arah kami dan menarik tubuh ayah.
"Kurang ajar kau orangtua, anakmu sendiri kau perkosa.. Huh"
Sebuah
pukulan menyasar kewajah ayah sampai ia terjerembab kelantai. Rupanya
Mas Hamdi berpikir kalau barusan tadi aku diperkosa, ia lalu
menghampiri ayah yang jatuh dan menendang tubuh tua ayah beberapa kali.
Aku tak tahu mesti bagaimana saat itu, selain mengenakan kembali CD-ku
dan membenahi pakaianku.
"Kamu nggak apa- apa sayang?," suamiku memelukku setelah ayah tak berdaya.
"Enggak Mas.. Nggakk apa-apa," aku pun memeluknya, sungguh aku takut sekali saat itu.
Takut
ketahuan, dan takut ditinggalkan suami. Beberapa menit kemudian suara
ribut hardikan Mas Hamdi kepada ayah mengundang masyarakat datang. Ayah
kemudian diarak ke rumah Pak Rahmat, Kadus dikampungku. Setelah sehari
diamankan di rumah Kadus, Mas Hamdi melaporkan perbuatan ayah kepolisi
dan ayah diamankan di kantor polisi sekaligus dijerat sebagai
pemerkosa anak kandung. Aku ingin sekali membela ayah, tetapi aku tak
mampu. Kini, sudah lima bulan berlalu. Ayah sudah melalui proses
peradilan dan meringkuk di LP sebagai terpidana tiga tahun penjara.
Kisah kami tetap kusimpan rapi, dan sebulan sekali aku masih
mengunjungi ayah di LP walaupun kulakukan tanpa setahu suamiku.
BalasHapusJual Vakum Pembesar Payudara Di Surabaya
Jual Potenzol Cair Di Surabaya
Jual Blue Wizard Di Surabaya
Jual Opium Spray Di Surabaya
Jual Vagina Senter Di Surabaya
Jual Vagina Getar Goyang Suara Di Surabaya
Jual Obat Kuat Cialis 80mg Di Surabaya
Jual Obat Kuat Maxman Di Surabaya
Jual Pro Extender Di Surabaya
Jual Pill KLG Asli Di Surabaya